Nano Warno (Salman Fadhlullah)

Entries categorized as ‘refleksi’

Mencipta a miracle (mukjizat ) setiap hari

Februari 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

                                         Mukjizat 1

(Hemat Pangkal Bahagia)

 

Hemat itu harus diawali dengan menahan uang dalam jumlah yang sedikit. Karena setiap orang tentu akan berpikir dua kali menggunakan jumlah duit yang besar untuk sesuatu yang sia-sia, tapi sebagian besar orang tidak merasa sungkan mengeluarkan uang kecil untuk hal-hal yang tidak perlu. Jika kita cukup makan sekali dengan 7000 rupiah maka menambahi seribu rupiah untuk menu lain misalnya adalah pemborosan, sekalipun seribu rupiah!

Sebagian orang masih pasrah saja untuk mengeluarkan uang sepuluh ribu, lima ribu bahkan lima puluh ribuan untuk hal-hal yang tidak primer. Kesenangan-kesenangan istimewa biasanya membutuhkan jumlah yang besar dan waktu yang tertentu. Dan ini biasanya dicari oleh sebagian orang. Tapi ada juga kesenangan-kesenangan yang mungkin tidaklah istimewa namun selalu membutuhkan belanja-belanja minimalis yang kerap. Kekerapan (frekuensi)  inilah yang seharusnya dipersoalkan. Konon orang cina akan marah besar dan mengungkit-ungkit anak buahnya yang meremehkan uang satu rupiah saja! mengapa?

mukjizat 2

(Tharekat di keluarga)

Saya ingin menganggap tharekat ini sebagai beban malah sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menghibur diri saya dan keluarga. Awalnya kami mulai dengan menyetop Tivi. Terlalu banyak mudharat daripada positifnya. Perlu juga diketahui bahwa 99 persen orang yang memiliki tv adalah yang menyadari bahaya tv itu sendiri. Saya yakin kunciny adalah kepala keluarga dan ibu rumah tangga. Sebab bukankah mereka adalah raja dan penguasai di rumah. Mau bagaimana bentuk dan format rumah itu, mau menjadi rumah yang baeti jannati (rumah surgawi), baeti nari (rumah neraka), rumah yang biasa-biasa, amburadul, broken-home, Happy family and good family tergantung  sang bapak dan ibu, ayah terutama.

Dalam kenyataanny sang  ayah adalah figur, namun sebagian ayah, sekalipun itu tokoh, kyai, ajengan  atau syaekhu, tetap saja tidak syaekhu (profesional) dalam mengelola rumah tangganya.

 

Rumah adalah tempat yang sangat penting bagi manusia. Rumah  sekecil dan sekumuh apapun adalah tempat yang romantis bagi suami, istri;  tempat yang damai bagi anak-anak kita dan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Rumah juga melindungi dari perbuatan yang tidak baik. Rumah berbeda dengan resrotan, rumah berbeda dengan mall. .

 

Mukjizat 3

(Mengintip sisi positif orang lain)

Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Sebaiknya kita melihat sisisi kebaikan dari seseorang. Karena Allah swt mengajarkan tentang  sikap untuk menerima siapapun sekalipun orang-orang kotor, Allah swt memberi kesempatan kepada setiap orang untuk memperbaiki dirinya. Ia Mahasabar, kita juga selayaknya untuk bersabar dalam melihat keburukan, cacat dan aib seseorang sampai ia berubah dan kita menolong untuk berubah  dengan cara yang sangat santun dan baik.

Saya sendiri merasa lebih banyak dosa daripada anda semua. Saya yang merasa banyak belajar tentang islam mengakui lemah dalam mengamalkan ajaran-ajarannya dan menghindari larangan-larangannya.

Saya ingin mengalami transformasi dengan mengajak berbagi dengan anda dalam hal spiritual. Apa yang saya miliki mungkin sudah anda miliki dan bisa jadi anda sebetulnya adalah guru bagi saya, hanya karena saya menuliskannya maka itu tidak berarti saya memiliki kelebihan dari anda sekalian.

(lagi…)

Kategori: refleksi

pertanyaan restoris untuk dijawab

Januari 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Refleksi Senin 7 Januari 2008

 

Mengapa manusia mudah menempatkan diri dalam situasi sehingga membuat orang lain curiga terhadapnya?

Mengapa pria tertarik dengan wanita? Karena perbedaan wajah, karena perbedaan ras, karena keunikan, karena sesuai dengan impian, karena puber, karena ada kesempatan, karena terpikirkan, atau karena penasaran?

Mengapa manusia ingin kelihatan tampak sesuai dan sempurna dengan segala kekurangannya?

Mengapa manusia tidak bisa melepaskan dari dosa-dosa kecil? Mengapa manusia tidak suka mati dalam keadaan berjubel? Penuh dengan rombongan dan mati bersama-sama dalam sebuah teriakan dan jeritan?

Mengapa hati manusia menjadi riang karena uang dan sedih karena kehilangan uang?

Bukankah itu hanyalah tipuan belaka? Tidak ada yang dapat  merusak hati, mengapa pra anggapan tentang uang selalu mengecewakan?

Mengapa sulit menghadapi orang dan teman dekat yang menghardik kita di depan kawan-kawan lain? Reaksi seseorang yang dihardik itu apakah takut, takut wibawanya jatuh sebab tidak bisa marah?  Atau karena egonya yang dipertahankan akhirnya kululutus, diam, sambil merenungi dan menahan emosi, dan kata-kata yang pedas, yang menyinggung harga diri, sementara tempat itu adalah tempat yang meniscayakan kebaikan dan nama serta kehormatan diri. Jika diam berarti ia dianggap takut atau pengecut (karena demi menjaga citra lingkungan, tapi kalau dibiarkan terus-terusan berarti mengalah, dan makan hati?)? mengapa kita kalau diperlakukan secara tidak sopan dan dipermalukan di depan umum, kalau oleh orang lain kita mungkin akan ngotot, tapi kalau oleh kawan sendiri, apalagi disudutkan dengan posisi tersudut?

Ada yang menggangu kekhusukan manusia, yaitu pertempuan dengan teman lama, segala kenangan dan keinginan apakah bisa menumpulkan spiritualis? Apakah seseorang menjadi tersiksa karena tidak diperhatikan, tidak dipercaya, tidak diandalkan dan bahkan dijatuhkan dan bagaimana mengobati rasa sakit hati? Mengapa kita terlalu memuliakan hati dan perasaan ego, apakah benar-benar ia tidak siap dicoba dan bisa saja jadi lebih baik baginya daripada dengan kenyataan? Apa yang ada di luar terkadang tidak sesuai dengan harapan-harapan manusia, tetapi mengapa manusia memaksakan dir dan bahkan dengan cara ekstrim ia menolak aktif karena diaktifkan?         

Ya allah, bantulah kami dalam memulai thariqat ini, kuatkanlah kami dan tangguhkanlah kekuatan batin kami dalam menapaki perjalanna yang berat tapi membahagiakan ini.

Mengapa seseorang harus risau untuk berbuat baik? Memulai kiprah, dzikir bersama, training bersama? Kenapa engkau tidak merendahkan sayapmu kepada teman-teman? Kenapa engkau tidak menunjukan hati yang bersih dan hati yang suci untuk menerima kedatangan mereka? Apakah mereka mengganggumu? Apakah mereka menyita eksistensi, ruang, space dan timemu? Apakah mereka merebut posisimu dan mengusirmu? Apakah engkau begitu terus? Tidak mau menerima dan tidak bisa membilas keburukan dengan kebaikan, apakah engkau tidak eksrovert dan tertutup dan terkuncup hatimu? Adakah kegersangan hatimu dan keterkuakan jiwa dan kalbu untuk menjadi  penyiram hati dan penyejuk hati-hati yang bingung? Bukankah watak mereka itu sudah tabii? Dan bukankah engkau tidak menginginkan apa-apa,hanya sapaan dan pertemanan, mengapa hatimu menjadi terkunci demikian?

       

Selasa 8-1-2008

 

Mengapa tampak tidak ada aura spiritual ? ketika di datangi tamu, apakah karena baju kaos, ataukah harus pakai baju khusus terus ,dari kemarin mengapa mengabaikan pandangan? Apakah karena merasa tidak  perfect atau lalai? Mengapa ketakutan dengan kerumunan masih terus berlangsung? Mengapa terus bertanya? Ya, aku  terlalu preskriptif, kalian harus…kalian jangan….jangan disimpulkan, biarkan mereka menyimpulkan sendiri. Rahmatan lil alamin, mengapa tidak bekerja sama dengan habib, dengan segaf? Mengapa? Tidak melakukan sinergi?  Mengapa muak dengan manusia tertentu? Ada apa ini? Bukankah manusia itu harus menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi  siapa saja, rahmat bagi potensi yang berbeda-beda. Potensi orang desa adalah melihat sorot, jiwa,sosok, mata, hati, keyakinan, kepastian, mata hati, mata jiwa, mata kalbu, seluruh mental, mental seorang yang sudah kenyang dengan asam dan garam aktifitas, mereka tidak melihat omongan mereka melihat bukti. Mengapa jiwa leadhershif akan menyusut pada diri seseorang, tanpa suportif tapna budaya, tanpa pengalaman dan pengamalan, maka itu sulit, mengapa tidak menumbuhkan potensi-potensi untuk memimpin? Apa yang dicemaskan? Cemas merugikan? Cemas disebut penyelonoh? Hidup penuh dengan kecemasan dan kekakhatiran, cemas karena menjaga hati kaca, hati ego, ananiyah? Orang bilang resolusi, tapi resolusi saya tahun 2008 hanya satu menjadi pemimpin tharekat keluarga dan masyarakat, ini berat tapi aku harus mulai dari minggu depan?

 

Kategori: refleksi

wujud dan isue kontemporer

Januari 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

sebagian berpendapat bahwa  diskursus filsafat metafisik shadra tidak menyentuh realitas dan terlalu abstrat, menurut saya bahwa wujud itu adalah nyawa dari realitas maka ia pasti bisa ditarik ke ranah empiris dan praktis. marilah kita melakukan analisa. wujud itu kan berkaitan juga dengan ide, gagasan sebagai buah pikiran dan hasil dari reaksi atau tafakur kita dangan dunia nyata. dalam dunia nyata kita perlu kepada ide-ide tentang peace, love, plurality, wisdom, keadilan, kebebasan dsb, itukan ada, walaupun dalam dunia ide, dan perlu kita wujudkan di dunia nya. idealis kan begitu. nah, filsafat  wujud juga membicarakan itu pasti,    keberadaan kita sebagia manusia, itu penting kita sudah berada dan tidak  tidak ada,  berada  menurut wujud artinya punya power dan ilmu, bahkan batupun menurut shadra karena ia adalah being maka ia punya power dan knowledge, apalagi manusia, lalu keberadaan manusia harus apa? dan bagaimana? ingat menurut shadra keberadaan manusia tidak berbeda dengan keberadaan tuhan, hanya berbeda gradasi saja. jadi  secara wujud manusia itu harus bangga, ia sama-sama diberi kehormatan oleh tuhan memiliki kesamaan derajat dengan tuhan,

Kategori: refleksi

mengapa bersedih kawan? di dunia ini kita ngontrak?

Januari 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

dunia kan, tempat ngontrak, dan bukan tempat yang bisa dipercaya 100%!  tanahnya bisa rusak oleh air, jadilah longsor, industri bisa merusakan ozon, jadilah panas yang  melebihi batas sehingga permukaan air menjadi tinggi, terjadilah banjir!

jadi selalulah siap-siap dan jangan leluasa serta selesa, tinggal dengan nyaman dan aman di rumah kontrakan ini. Nyawa kita juga siap saat akan diambil. TIdak ada yang bisa menahan jika Tuhan sang pemilik nyawa memanggilnya!

mengapa bersedih kawan, kita tidak bisa mengubah yang memang tidak  bisa berubah, paling-paling kita hanya bisa memperlambat kerusakan. sucikanlah mental, jauhi ego dan dekatilah tuhan dengan banyak berbakti kepada-Nya dan kepada manusia. jangan menunda-nunda berbuat baik, jangan sibuk menyenangkan diri sendiri dan fisik anda!

jangan tenggelam dalam kenikmatan duniawi, jangan tertipu oleh apa yang terlihat, hati-hati , dunia dan kehidupan ini bukan milik kita!

tidak usah bersedih kawan, apalagi kalau yang kita sedihkan hanya hal-hal material dan fisik dan tempat tinggal, siap-siaplah anda kelelahan, anda kecapean dan anda terengah-engah merengkuh dan survive dalam hidup!

Kategori: refleksi

Hirarki nalar para pengaku islam

Desember 31, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

1.Nalar literalis,

umumnya orang yang tidak sabar dalam mengumpulkan data, cepat puas dengan kesimpulan guru dan komunitas mereka. tidak tekun dan tidak terlalu cerdas dalam berpikir. islam memberikan perhatian yagn besar pada nalar, perintah tafakur menunjukan bahwa nalar tidak boleh seenaknya harus ilmiah, terbuka. nalar literalis akan mengagungkan penafsiran mereka terhadap islam dan quran sendiri.

(lagi…)

Kategori: refleksi

Fikih muta’aliyah (fikih transendental)

Desember 4, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Fikih adalah aturan ilahi yang telah memasuki ranah empiris. Ada dua view terhadap fikih, pertama pandangan teolog dan ahli fikih yang menganggap fikih adalah segalanya dan bukti ketundukan hamba kepada Allah. Pandangan kedua yaitu kaum perenialis, ulama ilahiyat yang memandang bahwa fikih adalah manifestasi kecintaan hamba kepada Allah.

Fikih yang saya pilih adalah fikih pandang kedua, karena tidak ada keterpaksaan, bersifat humanis dan sebagai ajang riyadhah untuk mendekati Allah secara detail, per momen dan menyeluruh.

  (lagi…)

Kategori: refleksi

islam yang kaffah

November 26, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Di depan mahasiwa, saya menegaskan tentang keberlimpahan dan kekayaan al-Quran, serta sikap islam yang multidimensional (kafah), kafah dalam  islam versi saya adalah kemahaluasan islam yang meliputi  dan  memberikan solusi dan penawaran dari segala  dimensi baik itu rasional, spiritual, literal, filsafat, irfan, teks-teks mistik dan eksoterik, sosial dan individual, fikih, ushul fikih, dsb. sangat terlalu simplikasi kalau islam itu disederhanakan hanya sekedar syariat negara atau hukum fikih rumah tangga.

Kategori: refleksi