Nano Warno (Salman Fadhlullah)

legacy 17-1-09

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bagaimana menggiring pikiran negatif kepada pikiran positif?

Memang sangat aneh manusia  sangat suka mempertahankan pikiran pesimis, padahal itu sangat merugikan mental dan juga kehidupannya. manusia lebih percaya kepada apa yang menjadi kecemasannya daripada apa yang di impikannya?

dan biasanya apa yang menjadi kekhawatiran itu akan menjadi kenyataan. di sini faktor ketegasan seseorang memang perlu dilatih untuk segera membuang pikiran-pikiran negatif.

Saya yakin pikiran negatif itu dihembuskan oleh setan atau berangkat dari kebiasaan mental yang buruk, yaitu memelihara mental kekalahan dan mental kecemasan.Padahal setiap orangtahu tidak ada yang bisa diselesaikan dengan kecemasan dan pikiran negatif !

mungkin kita bisa menganalisa dari sisi karakter manusia.karakter manusia yang cemas-cemas harap, suka bergantung pada kekuatan dan pemberian orang lain mungkin akan lebih banyak meninitikberatkan pada kecemasanya alias lebih trust dengan worry daripada trust dengan his dream!  dan kita akan segera melihat sejauh mana ia bertahan dengan hidup seperti itu,namun yang ajaib begitu ia sadar dengan pengaruh besar pikiran negatif ia tetap memeliharanya dengan tekun.

Terdapat tiga pandangan tentang ilmu tuhan terhadap di luar dirinya. Tapi yang terkait dengan isu pengetahuan tuhan terhadap dirinya (himself) adalah sebuah hakikat bahwa  Ia menyadari diri-Nya sendiri. Mengapa Ia menyadari diri-Nya? sebab Ia adalah entitas mujarrad ( immaterial). Entitas immaterial atau mungkin lebih tepat untuk tuhan adalah Zat yang immaterial pasti menyadari diri-Nya sendiri. Yang tidak memiliki kesadaran terhadap dirinya adalah materi. Kehadiran ilmu yang juga immaterial adalah sesuatu yang axiomatic pada Zat  immaterial. Jadi otomatis karena sama-sama immaterial ia tidak memerlukan yang lain. Immateiral adalah aktif atau bilfi’l dan bukan potensial ( bil quwaah). Ia segera menangkap dan mengetahui tanpa mediasi yang lain.

Adapun berkaitan dengan ilmu tuhan (knowledeg of God) terhadap yang lain, maka kita akan mendapatkan tiga pandangan  yang merentang dalam pandangan-pandangan Peripatetic, Syuhwardi dan Mulla shadra

Peripatetik berpendapat bahwa pengetahuan itu adalah mengambil shuwar maqulah atau intellectual form dari objek, maka tuhan mengetahui yang lain atau makluknya lewat shuwar maqulah ini. Namun keberatan yang diajukan oleh Muhammad Taqi Misbah adalah apa itu shuwar maqulah terhadap tuhan? Peripaterik menjawab  bahwa itu adalah lawazam ataa concomitan  dari tuhan……(to be continued)

Kategori: Tidak terkategori

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar