Nano Warno (Salman Fadhlullah)

Masukan dari Agustus 2008

syafa’at tuhan dan kedermawanan-Nya

Agustus 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ya Allah aku tidak mengharapkan syafaat dari –Mu kecuali lantaran aku mengenal-Mu Sebagai Zat yang paling dekat dengan para pengemis bantuan.

Seseorang bisa meminta syafaat dari yang lain karena tuhan telah mengizinkannya
Dan tidak tidak ada yang memberi syafaat kecuali dari mereka yang diridai oleh-Nya dan mereka merasa selalu waspada karena merasa takut terhadap-Nya (QS al-Anbiya : 28).

Di hari itu tidak akan bermanfaat syafa;at kecuali dari mereka yang telah diizinkan oleh Yang Maha Rahman dan meridai perkataan mereka.
Tidak ada yang bisa memberi syafa’at kecuali setelah mendapat izindari-Nya.

Wali-wali Allah swt bisa memberikan syafa’atkepada orang-orang tertentu karena mendapatkan izin dari Allah swt. Menrutu sebuah hadis bahwa par anabi, wali-wali allah,orang-oragn salih, prashidiqin dan para syuhada suka memberikan syafaatnya.

Rasululah dan imam-imamnya adalah permberi syafaat yang terbaik Mereka adalah syuhada di darul fana dan syuhada di darul baqa Imam Shadiq as berkata,”para pemberi syafaat yang mendapatkan izin dari Allah adalah kami

Ya Allah kalau aku menemukan pemberi syafa’at yang lebih dekat kepada-Mu dari Muhammad dan ahlubaitnya pasti aku akan menjadikan mereka sebagai syafaatku.

Setelah mereka yang bisa memberikan syafaat adalah para syuhada dan orang-orang yang beriman.

Amal-amal yang baik juga bisa menjadi syafaat bagi seseorang. Dengan para penghulu ahli sujud kita menyampaikan sesuatu kepada Allah swt. Hasrat cintaku pada-Mu dan aku memohon syafaat kepada-Mu. Menurut hadis al-
Quran juga akan memberikan syafaat bagi para pembacanya. Ahli Quran adalah manusia-manusia yang mengamalkan al-Quran

Manusia-manusia yang hidupnya tidak pernah melepaskan dari al-Quran akan mendapatkan syafaat dari al-Quran dengan diampunkannya dosa-dosa yang pernah dilakukannya.

Ya Allah aku memohon dengan kedermawanan-Mu agar bisa dekat dengan-Mu !

Al-Jûd adalah maha dermawan. Yang dermawan tidak mengharapkan balasan apa-apa al-Jûd tidak sama dengan al-Atha dan sakhawat . Jadi kata jûd sebetulnya hanya layak untuk tuhan. Sebab tuhan bukan Zat yang memiliki pamrih. Ibnu Sina mengatakan : al-Jûd ifâdatu ma yanbagî lâ li’iwadhin wa lâ ligharadin.
Kedermawanan itu adalah memberikan (sesuatu) yang baik dengan tanpa pamrih dan tanpa maksud-maksud tertentu.
Tuhan adalah maha mutlaq yang tidak mengharapkanapapun dari perbuatanya . Ibnu Sina menambahkan bahwa: al-Âli la gharada lahu fi sâfil. Yang Maha Tinggi tidak tergantung pada yang rendah ia adalah maha dermawan yang mutlaq dan tidak Ia adalah kedermawanan sejati
Yâ Jawad lâ yabkhal, Wahai si Dermawan yang tidak bakhil!

Manusia yang dermawan juga hanya mampu memberikan kekayaan dari tuhan. Penisbatan al-jûd (kedermawanan) kepada selain tuhan hanyalah penisbatan yang majazi (metaforis).
Dalam doa Abu Hamzah Ats-Tsumali
Wa ilâ jûdika wa karamika arfa’u basharî, dan aku memalingkan mataku kepada kemurahan hati-Mu dan kedermawanan-Mu.

Anta al-Jawâdu alladzî lâ yadhîq ‘afwuka wa lâ yanqadhi fadhluka Engkau adalah si Maha pemurah yang tidak akan menyedikitkan ampunannya dan tidak akan memotong keutamaan-Nya.

Wahai sebaik-baik yang diminta
Si pemberi yang paling dermawan
Kemahadermawanan-Mu

Dalam sebuah doa
Ya ajwada min kuli jawâdin ya ajwada al-ajwadîn
Ya dzal jûdi wa ni’am, Ya man akrama bi jûdihi

Dalam doa iftitah : Alhamdulillahiladzi al-Bâstih bil-jûdi yadahu alladzi la tanqush khazâinihu wa lâ tazîdu katsrataul Athâ` illâ jaudan wa karaman

Wahai yang maha dermawan dari setiap yang dermawan
Wahai yang paling dermawan dari yang paling dermawan
Wahai yang memiliki kedermawanan dan karunia
Wahai yang memuliakan dengan kedermawanan-Nya

Segala puji bagi yang membentangkan kedermawanan tangannya yang tidak akan mengurangi khazanah-khazanah-Nya dan yang pemberian-Nya tidak akan menambah kedermawanan-Nya.

Kategori: Tidak terkategori

cacing kepanasan

Agustus 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

jiwa ini yang seperti cacing kepanasan

menghadapi embah setu, usuf, iskandar, dan tetangga lain masih tidak menyejukan, hanya dnegan perasaan dizalimi jiwa ini menjeerit-jerit kecapean dan kelelahan? ada aoa dengan jiwa ini yang begiu rentah, terkeluipas, kering, dan pucat?

hanay dengan setetes ujian ia menggerinjang ketakutan, menjorok ke dalam

menangis??

Dengan kemahamurahanya dan kedemawannya seorang hamba diperkenankan dekat dengan tuhan-Nya.

 

Kedekatan dengan tuhan memilik martabat-martabat yang berbeda-beda. Martabat yang tertinggi adalah yang dicapai oleh manusia paling sempurna. Rasulullah berkata, “lî ma’a llahi waqtun lâ yasa’anî malakun muqarrabun wa lâ nabiyyun mursalun.” Aku memiliki kesempatan bersama Allah yang tidak dimiliki oleh malaikat muqarrabu dan tidak juga nabi yang diutus.”

 

Feresteh gar ceh dorad qurb darghoh

Nagunjad dar maqam lil ma’a llah

 

 

Malaikat sekalipun memiliki kedekatan dengan tuhan

Ia tidak bisa mencapai maqam lî ma’a llah

 

 

Sedang dia berada di ufuk yang tinggi

Kemudia dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi

Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi (QS an-Najm :7-9).  

 

Rasulullah berkata di dalam mikraz aku begitu dekat dengan tuhan dimana jibril pun tidak bisa mendekati sedekat itu, dan kalau saja aku mendekat lagi sejauh satu jari maka aku akan terbakar.

 

Syadi mengatakan’’

 

Jika aku mendekat lagi sehelai rambut

Maka cahaya tajali akan membakar

 

 

 

Ya Allah ajarkanlah cara bersyukur dan ilhamkanlah zikir kepada-Mu

 

Iza’ disini artinya ilham  ilham adalah pengetahuan  yang dikirimkah oleh tuhan pada hati hamba-Nya. 

Wa qôla rabbi awzi’nî an asykura ni’mataka allati an’amta ‘alayya wa ‘ala wâlidayya

 

Dan demi jiwa serta yang menyempurnakannaya maka ia mengilhamkan kefajiran dan ketakwaan

 

 

 

Kategori: Tidak terkategori