Nano Warno (Salman Fadhlullah)

kasykul

Mei 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Refleksi

Hari ini kamis, self dan kesadaran harus segera bangun, maka bagaimana jika esok atau hari ini kematian tiba? apa yang akan terjadi dengan nasib diri dan pertanggung jawaban di hadapan tuhan? kematian adalah antuasiasme ruh, karena ruh tidak mengikuti badan tapi badan yang mengikuti ruh, maka ketika ruh tidak lagi betah dengan kehidupan dunia, ruh sudah tercerahkan maka ia akan meninggalkan badan, dan itu adalah kematian alami bagi badan.
mengapa manusia seperti beta ini , tidak merindukan liqa dengan Allah, dan tidak merasakan surga di dunia. bukankah surga itu yang hakiki adalah bertemu dengan Allah, dan bukankah bertemu dengan Allah itu bisa saja di dunia, jadi aku belum bertemu dengan allah dan belum merasakan surga. lihat ayat 46. surat ke 55, bahwa bagi yang takut akan maqam tuhan akan mendapatkan ‘jannatain’ (dua surga), meskipun terdapat beberapa tafsir, tapi tafsiran sufi menyiratkan bahwa dua surga itu di dunia dan di akhirat.

Ketika sadar akan pengetahuan tuhan yang meliputi segala hal, jika sadar akan kehadiran tuhan dimana-mana. Jika mengerti benar bahwa tuhan mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi; jika saja manusia menyadari bahwa Tuhan selalu mengetahui dengan benar tentang hati, niat dan getaran setiap hati manusia, maka pengetahuan mulia ini cukup bisa mengubah seseorang.

apa sifat ilmu itu, dan apa tanda alim yang hakiki itu? ilmu kan cahaya, mencerahkan, mendinginkan, membuat berpikir objektif, ilmiah, jauh dari purbasangka, cerdas, melembutkan dan membuat bijak, merasa kekurangan sehingga ingin menambahi ilmu, membuka diri, ingin menyempurnakan apa yang diperolehnya dan siap diperbaiki,

علامه مجلسى در كتاب بحارالانوار روايت ذيل را از حضرت امام صادق(ع) از طريق شيخ بهايى نقل مى كند: ما من مؤمن الاوله مثال فى العرش، فاذا اشتغل بالركوع و السجود و نحوها فعل مثاله فعله، فعند ذلك تراه

الملائكة عند العرش و يصلون و يستغفرون له، و اذا اشتغل العبد بمعصية أرخى الله تعالى على مثاله لئلا تطلع الملائكة عليها، فهذا تأويل يا من أظهر الجميل و سترا القبيح

alamah majlisi dalam kitab biharul  anwar  menukil riwayat ini dari syaikh bahai, setiap orang mukmin memiliki mitsalnya di arasy. jika ia sibuk ruku dan sujud maka mitsalnya juga melakukan hal yang sama ……

goresan-goresan tentang filsafat

sadra menawarkan pemahaman dan pendekatan baru terhadap isu epistemologis. bagi sadra mengetahui artinya mengada, mengada mengambil kesempurnaan dari ilmu. Yang memiliki pengetahuan sebatas inderawi maka laksana hidup terbatas di alam inderawi, bendawi, dan yang memiliki pengetahuan tentang imajinasi, atau mengimajinasi bagaikan hidup di alam imajinasi dan ajaib juga, siapa yang mengetahui hal-hal yang bersifat intelektual (ma’qulat) ibarat hidup di alam ma’qulat itu sendiri, semakin berkualitas ilmunya semakin berkualitas dirinya, alias beingnya.

disini wujud tampaknya lebih pas diterjemahkan being dari existensi, sebab  eksistensi lebih cocok untuk wujud muqayyad. di antara (lagi…)

Kategori: Tidak terkategori