Nano Warno (Salman Fadhlullah)

Kamus Pribadi

April 30, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

(key words dari terjemahan dan saduran dari beberapa paper tentang epistemologi Shadra dari mullashadra.org)

Kata shadra kontradiksi selain harus memenuhi 8 syarat kesatuan (wahdah) juga harus ditambah dengan wahdah dalam haml (predikat); baik haml dzati atau haml syina;.

wujud dzihni (mental existence)

Ketika jauhar atau ardh external ‘memasuki pikiran/mental/dzihni’ maka jauhar atau ardh itu akan kehilangan unsur externalnya disini bisa dilihat dua haml (predikasi) yang berbeda : 1.wujud mental dari sisi mahiyat secara dzati memiliki kesatuan (wahdat) dengan wujud khariji, sehingga bisa diatributkan (haml) haml dzati dan awali 2. tapi jika dianalisa kondisi dan wujudnya di mental, itu adalah kaifiyat nafsani dan ini adalah haml syina’.

kesimpulannya, ketika seseorang mempersepsi, mentashawur sesuatu (seperti substansi (jauhar) atau ardh (aksiden) ) di luar pikirannya itu terjadi karena ada unsur externalnya , tetapi ketika unsur-unsur externalnya dihilangkan dan menyatu dengan mental (dzihni) maka itu menjadi sebuah kualitas (kaifiyat), tidal lagi memiliki unsur-unsur externalnya.

1. juz`i (partikular) adalah juz`i (partikular)

2. juz’i adalah kulliy (universal)

Tidak bertentangan sebab proposisi pertama di lihat dari mafhum yang kedua dari misdaq. atau yang pertama relasinya adalah hamli dzati dan yang kedua hamli syina’i.

Ittihad Aqil mal Ma;qul

Hakikat ta’aqul, yaitu ilmu, idrak yang dimiliki oleh manusia dan hewan dan immateril being yang lain, jadi ta’aqul itu bisa dilakukan oleh semua. Kecuali wujud materi yang goeru mujarrad, bendawi tidak memiliki kelebihan seperti ini.

Ta’qul sebagai sub ilmu atau bagian dari mengetahui harus sesuai dengan definisi-definisi tentang ilmu, lantaran itu shadra mendefinisikan ilmu sebagai hakikat-hakikat yang mahihatnya adalah ia sendiri, mahiyaht ilmu adalah ilmu itu sendiri, karena itu tidak bisa didefinisikan dengan dengan had dan rasm, sebab ilmu tidak memiliki jins dan fashl, tidak ada yang lebih jelas dari ilmu itu sendiri, ilmu bersifat self-evident,

inna nafsa ta’aqul bi an takhudza fi dzatiha shuratal ma’qulat

Shadra berkata :

Ta’aqul huwa idraku lisyain min haetsu mahiyatuhu wahdahu,

ta’aqul yakni idraku mahiyah wahdahu syaiin,

Ibnu sina menjelaskan bagaimana persepsi form itu berlangsung dengan berbagai variasi diantaranya nafs aqil melakukan tajrid (immaterialisasi, ) dan awarid dan lawahiq materinya, keluar dari marhalah hiss, khiyal, wahmun sampai pada marhalah aqal,

Dalam penjelasan lain nafs, Aqil (intellect) menyambungkna pada akal fa’al untuk memperoleh bentuk ma’qulah

Ibnu sina mendefinisikan ilmu : taaqul adalah husul shurah ma’qul dalam akal. Ia juga menganggap ilmu tuhan seperti itu juga.

Unsur yang sama antara Ibnu sina dan Mulla shadra

1. tajarud akal 2.tajarud ma’qul 3.nafs, aqil bil quwwah, aqil bil fi’l

menurut ibnu sina dan mulla shadra, insan adalah wujud mujarad yang bisa melakukan ta’aqul dan aqil bil quwwah, ketika ia berta’aqul, aqil menjadi bil f’il.

Shadra menjelaskan beberapa macam jenis itihad (union) : 1. itihad materi dengan form 2. itihad tarkibi 3. itihad antara jauhar dan ardl 4 itihad

Idrak (to percept ) atau ilmu (to know) atau ta’aqul sesuatu artinya hudur (present); hadirnya pada yang mempersepsi (Mudrik) dan bukan zuhur (appereance) , sebab hudur beda dengan zuhur. hudur artinya wujud.


argumen 1

relasi akil dan maqul adalah relasi tadhoyufi ( seperti relasi antara ayah dan anak, pemilik dan yang dimiliki atau suami dan istri), jadi setiap kali menyebut suami,maka terbayang istrinya, atau ketika disebut ayah pasti ada anaknya; keduanya tidak bisa dipisahkan. setiap disebut mudrik pasti ada mudrakany setiap disebut aqil pasti ada ma’qul.

.

Menurut para filsuf pra Shadra, relasi ilmu dan ma’qulat dengan nafs adalah relasi isi dengan wadah (nafs adalah container ilmu,) dan dianggap sebagai kesempurnaan sekunder.

tapi mulla shadra membuktikan bahwa apa yang diketahui oleh nafs (jiwa) atau ilmu yang ada pada jiwa adalah hasil kerja keras nafs dan harakat dan aktifitas takamuli wujud insan.

atas setiap yang diketahuinya, wujud insan menjadi semakin sempurna. seperti batu -bata yang ditambahkan pada bangunan, jadi bukan warna sesuatu yang digoreskan pada dinding atau isi pada wadah.

setiap ilmu yang diraih insan, akan menyempurnakan dan

memaksimalkan manusia, jadi yagn dicerap adalah bagian dari wujud insan dan bukan aksiden.

Kategori: papers

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar