menimbang penampilan diri di hadapan masyarakat itu perlu sekali!
Setiap orang merasa perlu memperhatikan nilai-nilai ilahiyah di dalam diri, dan menampakan keindahan akhlak tuhan pada diri dan pada yang lain. keindahan dalam kesabaran, ketelatenan, kewibawaan, aura, kesucian, kebaktian, pengabdian, pelayanan kepada sesama, rasa cinta, keadilan, ammar makru nahi munkar dan segala asmaul husna seusaha mungkin agar efektif di dalam diri.
tetapi kebaikan dari nilai-nilai tuhan selain harus subjektif (ikhlas. ridha, tawajuh, mahabbah) juga harus diukur dalam mizan social. mizan sosial adalah sejauh mana penerimaan manusia akan diri dan aktualisasi diri, sikap dan respon objektiv diri terhadap segala yang terjadi, dalam pergaulan, silaturahmi, gerak-gerik, senyum dan mimik wajah dan bahkan cara melihat, mendengar dan aktualiasi kalbu. itu adalah tidak boleh disubjectivkan dan harus dilihat oleh kacamata yang lain, yang lain semakin banyak semakin lebih baik dan apalagi kalau yang lain itu ahli ilmu dan ahli maknawi. kita tidak hidup untuk tuhan dan diri dalam arti yang sempit, tapi kita juga hidup untuk orang lain.
jadi kebaikan dan ketulusan manusia, kualitas ibadah, bacaan, tawadu, kerja keras, kulalitas zikir, tafakur, meditasi dsb tetap harus diperbaiki lagi jika masih dianggap ganjil dan tidak menyenangkan atau tidak diterima oleh kalbu masyarakat.
keobjektifan amal ini jarang dimiliki oleh santri dan ulama yang picik, yang hanya sibuk memperbaiki diri sendiri dan lupa dan menjadi autis dengan manusia yang lain. kita masih perlu belajar menjadi rahmatan lil alamin.
Mencintai manusia apa adanya
seorang arif melihat manusia tidak dengan egonya, tidak dengan kepentingan materinya, tidak dengan atribut-atribut duniawi atau standar-standar yang subjektif. Ia harus melihat manusia qua manusia. yang harus dihargai, dihormati, dicintai, ditolong, dibantu,dilayani, diselamatkan, dijunjung, diberi, diarahkan dan sebagainya. alhasil ia harus menjadi keberkatan pada yang lain,meskpun yang lain itu tidak sesuai dengan harapan-harapan dirinya. MEngapa manusia mudah berubah karena asesori, dan perilaku yang tidak berkenan. Apa yang terjadi. mengapa harus memakai rambu-rambu yang terlalu sempit untuk menjatuhkan rasa cinta dan pelayanan pada sesama. Mengapa harus menanti stimulan yang positif saja. AKtiflah dan jadilah proaktif untuk membantu sesama, baik yang meminta atau tidak. Jadilah oksigen yang menyegarkan dan menawarkan udara bersih. jadilah air bening yang selalu menyirami dan merangkul segala kotoran kemudian membersihkannya.