rumi berkata :
Iman itu nyatanya adalah berharap dan takut. Ada yang bertanya kepadaku kapan harapan itu menjadi harapan yang tepat dan apa itu rasa khawatir? Aku balik bertanya lagi engkau engkau takut tanpa harapan atau harapan tanpa takut? Sebab keduanya tidak boleh terpisah
Kala menanam gandum engkaumembawa harapan di saat yang sama tercetus takut akan hujan dan kegagalan panen. In menjelaskan bahwa tidak ada harapan tanpa ketakutan dan begitu juga sebaliknya. Saat memiliki energi optimis engkau akan membanting tulang dengan ceria , bibir tersungging akan panen dan pahala yang melimpah . Tidak terbayangkan merasa takut tanpa harapan atau berharap tanpa was-was. Semakin besar berharap semakin banyak hasil yang diraih tapi sebaliknya semakin banyak was-was semakin renta saja diri ini. Perhatikanlah si pasien harus mengkonsumsi obat pahit dan menjauhi menu-menu yang lezat sang pasien tidak bisa bersabar jika tidak berharap sembuh.[1]
[1] Fihi ma Fihi :120