Nano Warno (Salman Fadhlullah)

April 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Artikel ilmiah

Renaisance memang berhutang budi pada nalar-nalar genius dan keberanian para filsufnya. konon katanya renaisance juga terpengaruh oleh peradaban islam. tapi mengapa di islam sekarang tidakterjadi lagi renaisanse? kebangkitan dari dogma agama dan teolog-teolog yang mengungkung nalar harus tetap ditiupkan. Elan agama adalah pencerahan intelektual, spiritual dan amal.

anda sekarang lihat filsafat barat sangat kreatif terus membuka wacana dalam berbagai cabang pemikiran, sementara islam tetap tidak bergeming? apakah situasi ini karena para agamawan atau karena kurang pede atau karena sedikitnya kaum filsuf, intelek dan ahli saint?

atauka

h the end of philosophy sudah menghampiri islam, tinggal catatan komentar dan syarah saja? tidak ada pemikiran genuine lagi?

 

Wisdom

Ta’riful asyjâr bi atsmarihâ (Engkau mengenal pohon karena buahnya ). Jadi jika ingin mengetahui keberkatan doa,maka kita harus melihat posisi kita di mata orang lain,apakah diri ini menjadi sumber keberkatan bagi yagn lain atau tidak? Jika membaca doa meningkatkan makrifat, keutamaan diri dan sikap baik terhadap yang lain maka itu mungkinsalah satu tanda bahwa doa ini terangkat ke arasy tuhan. Tapi sebaliknya jika doa-doa ini tidak memperbaiki sikap dana ahlak seseorang malah melahirkan sikap uzub, riya dan ambisius pada kenikmatan duniawa maka doa itu tidak mengandung keberkatan bagi diri apalagi bagi orang lain.

 

Sadi mengatakan

Hasil nasawad ridha sultan

Ta khari bandeghan najui

Khahi ke khuda bar tu bakhysid

Ba khalq khuda nukuyi

Kerelaan Sultan tidak akan kau dapat

Selama engkau tidak memikirkan rakyatnya

Kalau ingin mendapat karunia dari tuhan

Berbuat baiklah dengan rakyat-Nya

 

Kategori: tulisan ilmiah

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar