Di gerbong kereta api ekonomi bogor-jakarta, terutama di jam sibuk (rush hours) kaum perempuan seperti kodok-kodok terhina, papa, meminta ruang kosong, meminta kursi, memelas janga dicopet, jangan dilecehkan, jangan disudutkan dan jangan di……
Mengapa tidak diberikan gerbong khusus untuk perempuan? dua gerbong saja cukup, itu pun di jam sibuk? pernah tapi gagal,mengapa tidak sabar? mengapa tidak ada penjaga? penumpang laki-laki bak penjahat, berdiri di mana saja, di depan pintu sehingga menyulitkan orang masuk, pencopet apalagi, bajingan yang hanya mencuri dari orang-orang kecil.
Di gerbong itu Indonesia sedang menghinakan kaum yang menjadi penopang kehidupan bangsa? di gerbong itu setiap hari mahasiswi, para pekerja perempuan, ibu-ibu, anak kecil disergap dalam ruangan yang apek, penuh dengan sindiran-sindiran buaya dan porno, dan gesekan-gesekan alat kelamin yang kotor, sungguh laki-laki adalah kaum yang jahat dan ternoda serta suka menodai.
Mengapa tidak dibuat gerbong, karena DPR malas, Pejabat sibuk dengan yang lain? Perum PJKA menghabiskan waktu dengan mengambil wang dan waktu negara.
1 response so far ↓
amuli // Maret 12, 2008 pada 8:49 am |
Sebetulnya gerbong perempuan sudah pernah diberlakukan. Ada banyak hal yang menjadikan peraturan itu tidak efektif. Terkadang, karena dikejar jam kerja, perempuan sendiri nekad untuk masuk ke gerbong pria. Mungkin cara yang lebih efektif adalah dengan memperbanyak gerbong-gerbong perempuan, kalau perlu 2 set sekaligus dan di jam-jam kerja. Misalnya, pukul 07.00 kereta pria, pk.07.20 kereta perempuan. PT KAI, dengan demikian, harus memperbanyak lagi gerbongnya.