Nano Warno (Salman Fadhlullah)

Nalar filsafat dan tasawuf

Maret 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Istilah ilahiyat (metafisik) kembali mencuat mencibir nalar filosofis, dengan klaim rasio ada batasnya, itu adalah akal shagir, ia belum absah jika belum mendapat jamahan tuhan (enlightenned), karena itu intelek adalah padanan yang tepat untuk akal yang mendapat sinar ilahi dan ratio untuk akal yang harus dibopong menuju kecerdasan yang sesungguhnya.

memang akal konon tidak bisa optimal dan itu minimal dengan pernyataan ‘tidak tahu’. bukankah akal sering menyelesaikan masalah dengan ‘aku tidak tahu’. kualitas akal juga ditentukan oleh data, informasi dan wawasan sang manusianya, tanpa itu akal hanyalah pisah tajam yang masih tergoleh di sarangnya. akal keluar minimal untuk menciptakan premis minor, misalnya ‘manusia itu mati,’ akal juga memilah-milah informasi, melakukan induksi, kategorisasi, pelabelan, generalisasi, dan deduksi, akal memang rajin bertanya dan terus bertanya apapun.

Pabila kita hendak berfilsafat, maka kita harus mengerti apa yang kita kerjakan itu, sebab orang dapat berbuat jika mengerti apa yang diperbuatnya, orang mau menghargai, belajar filsafat jika mengerti tentangnya.  Pengertian, sementara, atau di awal-awal   mungkin dangkal sementara filsafat mencari yang dalam. Socrates tak mau mengatakan ia telah menguasai pengetahuan, ia hanya mengatakan sebagai pencinta kebijaksanaan  atau orang yang ingin mempunyai pengetahuan yang luhur (Sophia).

Untuk mengetahui filsafat maka kita harus diuraikan dulu tentang hal ‘mengerti’.  Aristoteles berkata manusia menurut kodratnya ingin mengerti. Manusia selalu tak puas dengan apa yang diketahui, dialami ia terus mencari, maka pikiran mencoba menghubungkan, mempersatukan macam-macam pengetahuan, mencari keterangan,  jadi kita tidak hanya puas ini demikian kita juga bertanya mengapa demikian?

mengerti adalah penyatuan subyek dengan obyek dan mengerti itu sangat penting, sebab ia menguasai sesuatu. Dengan mengerti manusia dapat hidup, tetapi mengerti perlu metoda ilmu pengetahuan yang universal, sintesis, menyeluruh, dan lebih bersifat  insight. ilmu pengetahuan memberitahukan apa adanya tapi filsafat memperdalam, mengaitkan dengan yang lain.

Kategori: tulisan ilmiah

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar