Nano Warno (Salman Fadhlullah)

pertanyaan restoris untuk dijawab

Januari 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Refleksi Senin 7 Januari 2008

 

Mengapa manusia mudah menempatkan diri dalam situasi sehingga membuat orang lain curiga terhadapnya?

Mengapa pria tertarik dengan wanita? Karena perbedaan wajah, karena perbedaan ras, karena keunikan, karena sesuai dengan impian, karena puber, karena ada kesempatan, karena terpikirkan, atau karena penasaran?

Mengapa manusia ingin kelihatan tampak sesuai dan sempurna dengan segala kekurangannya?

Mengapa manusia tidak bisa melepaskan dari dosa-dosa kecil? Mengapa manusia tidak suka mati dalam keadaan berjubel? Penuh dengan rombongan dan mati bersama-sama dalam sebuah teriakan dan jeritan?

Mengapa hati manusia menjadi riang karena uang dan sedih karena kehilangan uang?

Bukankah itu hanyalah tipuan belaka? Tidak ada yang dapat  merusak hati, mengapa pra anggapan tentang uang selalu mengecewakan?

Mengapa sulit menghadapi orang dan teman dekat yang menghardik kita di depan kawan-kawan lain? Reaksi seseorang yang dihardik itu apakah takut, takut wibawanya jatuh sebab tidak bisa marah?  Atau karena egonya yang dipertahankan akhirnya kululutus, diam, sambil merenungi dan menahan emosi, dan kata-kata yang pedas, yang menyinggung harga diri, sementara tempat itu adalah tempat yang meniscayakan kebaikan dan nama serta kehormatan diri. Jika diam berarti ia dianggap takut atau pengecut (karena demi menjaga citra lingkungan, tapi kalau dibiarkan terus-terusan berarti mengalah, dan makan hati?)? mengapa kita kalau diperlakukan secara tidak sopan dan dipermalukan di depan umum, kalau oleh orang lain kita mungkin akan ngotot, tapi kalau oleh kawan sendiri, apalagi disudutkan dengan posisi tersudut?

Ada yang menggangu kekhusukan manusia, yaitu pertempuan dengan teman lama, segala kenangan dan keinginan apakah bisa menumpulkan spiritualis? Apakah seseorang menjadi tersiksa karena tidak diperhatikan, tidak dipercaya, tidak diandalkan dan bahkan dijatuhkan dan bagaimana mengobati rasa sakit hati? Mengapa kita terlalu memuliakan hati dan perasaan ego, apakah benar-benar ia tidak siap dicoba dan bisa saja jadi lebih baik baginya daripada dengan kenyataan? Apa yang ada di luar terkadang tidak sesuai dengan harapan-harapan manusia, tetapi mengapa manusia memaksakan dir dan bahkan dengan cara ekstrim ia menolak aktif karena diaktifkan?         

Ya allah, bantulah kami dalam memulai thariqat ini, kuatkanlah kami dan tangguhkanlah kekuatan batin kami dalam menapaki perjalanna yang berat tapi membahagiakan ini.

Mengapa seseorang harus risau untuk berbuat baik? Memulai kiprah, dzikir bersama, training bersama? Kenapa engkau tidak merendahkan sayapmu kepada teman-teman? Kenapa engkau tidak menunjukan hati yang bersih dan hati yang suci untuk menerima kedatangan mereka? Apakah mereka mengganggumu? Apakah mereka menyita eksistensi, ruang, space dan timemu? Apakah mereka merebut posisimu dan mengusirmu? Apakah engkau begitu terus? Tidak mau menerima dan tidak bisa membilas keburukan dengan kebaikan, apakah engkau tidak eksrovert dan tertutup dan terkuncup hatimu? Adakah kegersangan hatimu dan keterkuakan jiwa dan kalbu untuk menjadi  penyiram hati dan penyejuk hati-hati yang bingung? Bukankah watak mereka itu sudah tabii? Dan bukankah engkau tidak menginginkan apa-apa,hanya sapaan dan pertemanan, mengapa hatimu menjadi terkunci demikian?

       

Selasa 8-1-2008

 

Mengapa tampak tidak ada aura spiritual ? ketika di datangi tamu, apakah karena baju kaos, ataukah harus pakai baju khusus terus ,dari kemarin mengapa mengabaikan pandangan? Apakah karena merasa tidak  perfect atau lalai? Mengapa ketakutan dengan kerumunan masih terus berlangsung? Mengapa terus bertanya? Ya, aku  terlalu preskriptif, kalian harus…kalian jangan….jangan disimpulkan, biarkan mereka menyimpulkan sendiri. Rahmatan lil alamin, mengapa tidak bekerja sama dengan habib, dengan segaf? Mengapa? Tidak melakukan sinergi?  Mengapa muak dengan manusia tertentu? Ada apa ini? Bukankah manusia itu harus menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi  siapa saja, rahmat bagi potensi yang berbeda-beda. Potensi orang desa adalah melihat sorot, jiwa,sosok, mata, hati, keyakinan, kepastian, mata hati, mata jiwa, mata kalbu, seluruh mental, mental seorang yang sudah kenyang dengan asam dan garam aktifitas, mereka tidak melihat omongan mereka melihat bukti. Mengapa jiwa leadhershif akan menyusut pada diri seseorang, tanpa suportif tapna budaya, tanpa pengalaman dan pengamalan, maka itu sulit, mengapa tidak menumbuhkan potensi-potensi untuk memimpin? Apa yang dicemaskan? Cemas merugikan? Cemas disebut penyelonoh? Hidup penuh dengan kecemasan dan kekakhatiran, cemas karena menjaga hati kaca, hati ego, ananiyah? Orang bilang resolusi, tapi resolusi saya tahun 2008 hanya satu menjadi pemimpin tharekat keluarga dan masyarakat, ini berat tapi aku harus mulai dari minggu depan?

 

Kategori: refleksi

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan sebuah Komentar