sebagai seorang muslim saya malu kepada diri sendiri, dan juga kepada orang lain karena selama ini kita telah mencederai ajaran sendiri tentang adab (etika). sebagai ajaran yang besar dan benar tentu akan tampak dalam perilaku keseharian kita. tetapi di indonesia dan khususnya di kota-kota jakarta, bandung dsb orang-orang muslim itu memalukan diri di depan masyarakat lain, apakah kita memang tidak memiliki peradaban, ataukah kita tidak memiliki rasa malu, ataukah kita tidak memiliki kepribadian?
Padahal kalau kita mempelajari kekayaan spiritual islam kita akan menemukan makna adab, salah satunya adalah tidak melakukan sesuatu yang tidak disukai orang lain .
renugkanlah ini :
Ali bin Abi Thalib mengatakan :
“Engkau disebut beradab jika meninggalkan apa yang tidak disukai orang lain.”
“Untuk membuatmu beradab, jauhi perilaku yang tidak disenangi orang lain.
“Adabkanlah dirimu dengan menghindari hal-hal yang tidak disukai orang lain.”
Menghindari hal-hal yang tidak disenangi orang lain adalah pelajaran adab yang terbaik.
“Cukuplah kamu belajar adab dengan apa yang engkau tidak sukai dari orang lain.”
Dalam kitab Misbah asy-Syariat, Muhammad bin Hanafiyah ditanya siapa yang mengajarkan adab kepadanya? Beliau menjawab, “Allah yang mengajarkan adab kepadaku. Aku mengamalkan apa yang kuperoleh dari ahi bijak dan kebajikan dan aku menjauhi perilaku-perilaku yang dijalankan oleh orang-orang jahil dengan begitu aku memperoleh kekayaan-kekayaan ilmu.”
Meninggalkan Sikap dan Perbuatan yang Tidak Pantas
Rasulullah menyampaikan tentang karakteristik seorang muslim yaitu sangat hati-hati dan memiliki sikap dan gerak-gerik yang santun.”
Ali bin abi Thalib mengatakan, “Alangkah beratnya mengalami kesusahan di tengah-tengah orang yang bahagia dan merasa bahagia di tengah-tengah orang yang kesulitan.”
Imam Hasan Askari mengatakan, “ Berbahagia di tengah-tengah orang yang menderita adalah jauh dari kesantunan.”
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.